Thursday, 27 August 2020

Orang Tua Mengajak, Bukan Menyuruh

Tulisan ini saya buat bukan bermaksud untuk memprotes atau menyinggung orang tua manapun atau siapapun, tapi ini adalah bagian dari realita yang kita lihat sehari-hari dalam kehidupan keluarga.

Umumnya, setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi lebih baik dari mereka. Sehingga setiap orang tua sebisa mungkin memberikan yang terbaik kepada anaknya. Baik dari segi pendidikan, moral bahkan makanan. Tapi, banya dari pada orang tua yang hanya memperhatikan apa yang diberi kepada anaknya dan seperti tak menghiraukan bagaimana memberinya.

Bahkan, seorang pemabuk tidak ingin anaknya menjadi pemabuk, seorang perokok juga tidak ingin anaknya menjadi perokok, atau yang sedikit lebih ganas, seorang pencuri atau perampok tidak ingin anaknya seperti mereka. Karena mereka tau apa resiko dari semua yang mereka lakukan itu. Tapi keinginan ini hanya sebatas keinginan. Ia tidak pernah memperhatikan bagaimana agar keinginan ini benar-benar bisa terwujud.

Seorang pencuri, memang tidak memberikan hasil curiannya kepada anak atau keluarganya. Tetapi, dari hasil curiannya ia bisa bertahan hidup dan bekerja kemudian hasil kerjanya tersebut yang ia bilang sebagai hasil jerih payahnya sendiri. Ini sama saja dengan menyaring air kotoran, meski air yang keluar terlihat bening, tapi tetap saja air itu berasal dari air kotoran. Dan kalau ingat, pasti akan jijik.

Kemudian perokok, banyak dari perokok saat ini bahkan sembunyi-sembunyi merokok dari anak-anaknya. Katanya sih agar tidak ditiru oleh anak-anaknya. Tapi kenyataanya, ia sendiri adalah petani tembakau, atau mungkin ia menjual rokok. Hal ini sama saja dengan anda tidak ingin anak anda merokok, tapi berharap anak orang lain merekok. Kalau tidak demikian, siapa nanti yang akan membeli rokok yang anda jual, atau akan jadi apa nanti tembakau yang ditanam ini.

Dan pencuri yang berharap anakya bisa menjadi uztad atau orang alim. Selama ini yang terjadi adalah orang tua hanya bisa menyuruh anak-anaknya mengaji, bersekolah, ambil buku dan belajar. Ya, mereka hanya bisa menyuruh dan memarahi. Sebenarnya, yang dibutuhkan seorang anak itu adalah diajari, bukan disuruh belajar. Tetapi sama-sama mendatangi majelis untuk sama-sama mengaji, sama-sama memegang buku untuk mengajari bagaimana menjawab soal, sama-sama membaca agar sama-sama tau. Sekali lagi bukan menyuruh mereka belajar, tetapi mengajari.

Akhirnya, tidak heran kalau selama ini banyak sekali anak-anak yang disuruh sekolah mereka sekolah, disuruh mengaji mereka mengaji, tetapi mulai dari disekolah mereka nakal, mengaji mereka sulit memahami, bahkan banyak dari mereka yang sering berkelahi dan nakal. Dan karena anda menjual rokok bukan kepada anak sendiri, tetapi kepada anak orang lain yang anak tersebut adalah teman dari anak anda, ternyata rokok itu dihisap oleh anak anda juga. Kemudian pencuri yang berharap anaknya menjadi ustad, hentikanlah pekerjaan itu dan ajak anak anda belajar, bukan menyuruhnya belajar.

Mungkin saya bukan ahlinya, tetapi inilah kenyataanya. Banyak dari kita yang tidak sadar tetang pola pengajaran terhadap anak. Sering-seringlah menanyakan kabar anak anda, walau mereka terlihat sehat dan gembira.

Semoga bermanfaat.

Share:

0 komentar:

Post a Comment