Wednesday, 22 April 2020

Aku Ingin Dipecat

Pernah tidak kalian ingin resign atau berheti dari sebuah pekerjaan rutinitas yang kalian kerjakan setiap hari, mulai dari bangun pagi, pergi mandi, gosok gigi, dandan yang rapi, kadang tidak sarapan, pulang juga sering kemalaman, dan terus berputar seprti itu saja.
Berfikir lebih jauh terima gaji hanya segitu saja, naiknya pun hanya saat ada kenaikan UMR / UMK. Masalah ilmu dan skill, dari dulu itu-itu saja, gak ada peningkatan. Tentang relasi, tinggal pilih saja kalian menjadi orang yang dimanfaatkan atau tega memanfaatkan, yaa kasarnya mumpung kenal atau mumpung samaan. Itu bukan teman, tapi hanya mereka yang mau memanfaatkan keadaan.
Dan masih banyak lagi keluhan-keluhan yang terasa bahkan saat sedari kalian bangung pagi. Kadang libur pun harus sempat di ganggu hanya untuk menjawab sebuah tanya yang tak penting atau penting sekalipun.

Jadi, itu adalah gejala kalian ingin berhenti kerja, atau sebaiknya memang berhenti saja. Tapi masalahnya adalah berhenti kerja itu tidak mudah. Mulai dari takut berfikir kerja apa nanti, belum lagi harus jawab tanya kenapa berhenti, termasuk tanya bagaimana memberi nafkah keluarga, kadang dianggap bodoh dan gila hanya karena orang berani bayar mahal untuk sebuah kerja sedang engkau pergi begitu aja.
Maka jika perasaan itu menghantui, maka bersiap saja untuk tua dan diam disana sampai kau tak dibutuhkan, sekalipun tidak ada jaminan kenaikan pangkat dan jabatan apalagi gaji, cuma ada kata semoga.
Tapi jika itu yang kalian rasa, maka aku anggap keadaan kita sama, setidaknya sampai masa ini.
Kemudian aku berfikir, mungkin sebaiknya aku dipecat saja atau di PHK. Sebab dengan di pecat setidaknya aku tidak perlu menjawab semua tanya itu, rasa takut dan tanya bukan lagi sebuah teori tetapi sesuatu hal yang nyata dan harus dihadapi.
Dengan dipecat juga kita tidak di cap sebagai orang bodoh atau merugi karena berhenti bukan kemauan kita sendiri. Mereka tidak berhak berkata kita rugi sebab kita dipecat bukan berhenti.
Mungkin saja dengan dipecat kita akan diberikan pintu rizki yang lain. Kenapa harus berfikir mungkin lebih sedikit atau lebih sulit, berfikir saja lebih baik dan lebih lebih, toh kan hanya mungkin, maka kenapa kita tidak berfikir kemungkinan yang lebih.
Dan jangan lupa, seekor burung yang keluar pagi hari, saat senja atau ketika mereka kembali perutnya sudah terisi, sebab Tuhan Maha Pemberi. Hanya kita memang tidak boleh berhenti.
Share:

0 komentar:

Post a Comment