Saturday, 21 March 2020

Pembeli adalah raja?

Awal kisah mereka datang ke rumah kami untuk berbelanja, membeli hasil bumi kami. Sebagai pembeli cerdas, tentu ia ingin membeli dengan harga terbaik, bila perlu langsung sama pemiliknya. Akan tetapi saat bertemu pemiliknya, ternyata pembeli ini cukup cerdas dibandingkan dengan kepintaran penjual untuk melakukan transaksi yang menguntung kan pembeli. Lanjut kisah, ternyata ada keuntungan besar menanti hanya dengan bermain kata. Maka mulailah terjadi yang namanya monopli.
Pembeli memang raja, tapi penjual punya hak menjual barang nya kemana saja. Akan tetapi titah raja sudah tak dapat di bantah. Semakin lama raja semakin bertingkah, hingga akhirnya dia merasa berhak atas wilayah. Maka akhirnya terjadilah yang sudah terjadi.
Mari kita lihat masa sekarang. Disaat kita mampu menjadi raja dengan segala kekuasaan kita di atas bumi sendiri. Tak ada alasan bagi kita untuk dikatakan tidak mampu menata kerajaan kita sendiri. Segala daya dan biaya kita ada.
Kita terlalu sibuk melihat hijaunya rumput tetangga, tanpa peduli rumput itu asli atau bukan. Bahkan bisa jadi rumput itu bukan milik tuan rumah nya sendiri. Lalu seakan mereka menjadi standar bagi kita bahwa itulah ukuran pencapaian kita.
Maka mulailah kita meragukan diri sendiri, saling tidak percaya bahkan saling menyalahkan. Tak pernah mau mengakui dan diam merenungi.
Entah bagaimana caranya hingga tiba buah fikir untuk mendatang kan kembali pembeli. Ya, mereka akan datang lagi, mungkin harus datang lagi. Mau nya adalah untuk membangun negeri, ya maunya memang dan selalu berkata ini bukan tentang pribadi.
Share:

0 komentar:

Post a Comment