Saya yakin masing-masing dari kita itu terlahir kaya, memiliki segala fasilitas dan berada di lingkungan yang memadai. Namun atas nama kebodohan dan kesombongan, kita angkuh dan mengabaikan aset kekayaan tersebut hingga merasa tak memiliki barang sesuatu.
Sebut saja seorang anak petani yang lahir dengan kekayaan sawah dan ladang yang luas. Berada di lingkungan yang subur, air mengalir terus sehingga kebutuhan pokok tidak akan pernah kurang. Namun seolah kehidupan modern membius menatap hal ini sebagai gaya kuno dan kehidupan miskin, lalu aset tersebut di jual demi dan mencoba merintis karir yang tak menentu.
Lihat saja mereka yang lahir dikatakan dengan kekurangan, singkatnya difabel. Matanya mungkin tak melihat tapi tangannya lebih peka meraba. Sepanjang hari mungkin ia terbaring di tempat duduk karena lumpuh, tapi kepalanya menyimpan setiap bait memori hidup. Mereka mungkin tak bisa berkata dan berbahasa, tapi kaki dan tangannya cekatan dalam bekerja.
Apakah hal ini tidak cukup menyadarkan kita betapa kaya diri ini. Hanya kita lupa dan mengabaikan segala potensi yang ada.
Ia sekarang kita tau teknologi, pandai berinovasi, kreatif dalam berfikir dan memiliki gagasan yang tegas. Lalu kenapa semua itu tidak kita kombinasikan dengan potensi dan aset yang kita miliki.
Saya harap saya dan kita belum telat untuk menyadari potensi ini. Selanjutnya kita cari solusi dan kitai raih kemerdekaan diri.
0 komentar:
Post a Comment