Tuesday, 26 February 2019

Mencari Lubang Tak Becelah

Aku memulai pencarianku saat aku masih kuliah, saat itu aku baru menyadari ternyata aku sedang mempersiapkan diri untuk mecari sesuatu. Akan tetapi yang aku tidak tahu adalah apa yang akan aku cari. Semakin aku mencari tau, semakin aku bingung dan semakin aku tau. Ya, mungkin aku mulai merada gila, tetapi sejujurnya ini sangat menggangu fikiranku. Mencari sesuatu yang akan aku cari. Apa itu yang sedang aku cari.

Seolah waktu seakan membawaku pada suatu tempat, di sebuah lubang, dalam sebuah lingkaran. Ternyata aku hanya berada didalam satu lubang dari sekian banyak lingkaran.



Kemudian aku menelisik satu persatu lubang-lubang tersebut. Dimulai dari saat aku kuliah. Aku bertanya, kenapa orang membuat sekolah, lembaga pendidikan, kampus dan semacamnya, sedang ditempat itu banyak sekali lembaga pendidikan sejenis, apa yang mereka lakukan, apakah mereka bersaing atau saling bantu, apa mereka berbisnis atau saling senyum manis. Tegas ku dijawab ini adalah persaingan bisnis yang mengatasnamakan pendidikan. Maka setiap harga yang dibayangkan sudah harus pasti memperhitungkan nilai untung.

Lalu aku melihat lubang berikutnya, lubang agama. Aku tak perlu bertanya disini, bahkan sesama pemuka agama pun mereka saling berdebat mengatakan dia lah yang paling benar. Dan mereka pun mulai berkubu-kubu, mulai bersudut-sudut dan membuat lubang masing-masing.

Aku mencoba datang kepeda mereka yang bergelar, dengan harapan menemukan sebuah jawaban yang tak serumit rumus. Akan tetapi rupanya mereka mengatakan bahwa teorinya lah yang paling benar dan paling tepat, meski semua jawaban diantara mereka benar. Adu argumen teori menjadi hal yang wajar disini, tanpa memperdulikan jawaban yang benar, dasarnya mereka menyadari setiap teori berujung pada jawaban yang benar.

Hingga akhirnya aku terdampar di dunia kerja, dimana disini mereka menggunakan segala daya upaya untuk menghasilkan tanpa mempertimbangkan, seolah sebuah lubang yang terus di lubangi.

Aku sungguh bingung dengan setiap lubang ini, kenapa setiap lubang memiliki celah. Atau apa aku lupa, ternyata aku juga sedang berada di dalam lubang yang juga sebenarnya lubang itu adalah celah. Sebab, jika lubang tak bercelag, mungkin itu namanya bukan lubang. Atau mungkin cara menutup lubang adalah dengan memejamkan mata.
Share:

0 komentar:

Post a Comment