Sungguh, telah nyata
bukti datangnya hari akhir yang pasti adanya. (Oget)
Alkisah, orang
tua jaman dulu menceritakan. Disaat gerhana matahari datang, diharapkan (bahkan
diharuskan) semua warga untuk tidak melihat secara langsung matahari tersebut,
karena katanya dapat menyebapkan kebutaan.
Namun saya belum
pernah menemukan ada orang yang buta karena melihat sinar gerhana matahari.
Akupun coba membuktikan hal ini, walau pakai kaca mata aku menatap matahari
hari ini (9/3/16) disaat matahari sedang tertutup bulan yang disebut gerhana
pada matahari. Bukan buta, tapi penglihatan kita menjadi kurang terang atau
tidak jelas karena kerasnya sinar matahari. Bahkan dihari biasapun jika kita
melakukan hal ini, maka kita akan merasakan hal yang sama.
Tapi yang paling
memprihatinkan menurut saya adalah alkisah orang tua menceritakan pada
anak-anaknya. Kalau gerhana matahari sebaiknya jangan keluar kamar. Tidak ada
jawaban pasti jika anda bertanya kenapa, hanya saja banyak orang yang
mengatakan bisa buta. Maka tidak sedikit orang berdiam diri didalam rumahnya.
Gerhana ini juga
dimanfaatkan oleh sebagian orang sebagai moment yang istimewa. Tidak jarang
dari mereka berdatangan kebeberapa orang yang dikira bisa memberi kelebihan
dalam hidupnya. Mulai dari meminta air atau semacamnya agar anaknya yang minum
air atau makan apapun itu kelak jadi pintar dan sejenisnya.
Ada lagi yang
lebih aneh, bahkan ini mungkin akan sering kita jumpai. Disaat gerhana baik
matahari maupun bulan, warga semua ribut. Mulai dari yang ribut pakai mulut
teriak gerhana kesana kemari, ada yang pukul-pukul kentongan dan apapun yang
bisa menghasilkan suara yang keras.
Menyaksikan fenomena
ini seperti sedang menyaksikan orang yang kebingungan.
Wahai saudaraku,
siapalah aku, tanpa bermaksud menggurui. Bukankah dalam Islam telah nyata dan
sangat jelas bahwa gerhana itu adalah bukti kekuasaan Allah SWT, lalu kenapa
kita masih saja menyebarkan cerita-cerita yang tak bertuan itu pada anak cucu
kita, kenapa kita masih saja memberi mereka dongeng yang tak berguna. Lalu
kenapa pula kita harus pontang panting kesana kemari mencari orang pintar untuk
minta keberkahan, dan kenapa pula kita teriak-teriak tidak jelas, ribut-ribut
dengan adanya gerhana ini.
Dan yang paling
saya sedihkan adalah kenapa kita harus takut sehingga mengurung diri didalam
rumah. Hanya berani mengintip dari bilik-bilik cahaya kecil rumah yang
sederhana.
Sekali lagi
telah jelas bagi kita didalam Islam bahwa apabila terjadi gerhana perbanyaklah
istigfar, dzikir, perbanyak doa dan sedekah. Keluarlah dari rumah-rumah kita,
melangkahlah ke masjid dan mengerjakan shalat gerhana. Dengarkan khutbah
khatib. Demekianlah cara kita menikmati gerhana, mengakui kekuasaan dan
keagungan Allah SWT.
Lalu masihkah
kita harus takut dan berdiam dibalik dinding.

0 komentar:
Post a Comment