Wednesday, 9 March 2016

Cerita Klasik Gerhana Matahari



Sungguh, telah nyata bukti datangnya hari akhir yang pasti adanya. (Oget)
Alkisah, orang tua jaman dulu menceritakan. Disaat gerhana matahari datang, diharapkan (bahkan diharuskan) semua warga untuk tidak melihat secara langsung matahari tersebut, karena katanya dapat menyebapkan kebutaan.

Namun saya belum pernah menemukan ada orang yang buta karena melihat sinar gerhana matahari. Akupun coba membuktikan hal ini, walau pakai kaca mata aku menatap matahari hari ini (9/3/16) disaat matahari sedang tertutup bulan yang disebut gerhana pada matahari. Bukan buta, tapi penglihatan kita menjadi kurang terang atau tidak jelas karena kerasnya sinar matahari. Bahkan dihari biasapun jika kita melakukan hal ini, maka kita akan merasakan hal yang sama.
Tapi yang paling memprihatinkan menurut saya adalah alkisah orang tua menceritakan pada anak-anaknya. Kalau gerhana matahari sebaiknya jangan keluar kamar. Tidak ada jawaban pasti jika anda bertanya kenapa, hanya saja banyak orang yang mengatakan bisa buta. Maka tidak sedikit orang berdiam diri didalam rumahnya.
Gerhana ini juga dimanfaatkan oleh sebagian orang sebagai moment yang istimewa. Tidak jarang dari mereka berdatangan kebeberapa orang yang dikira bisa memberi kelebihan dalam hidupnya. Mulai dari meminta air atau semacamnya agar anaknya yang minum air atau makan apapun itu kelak jadi pintar dan sejenisnya.
Ada lagi yang lebih aneh, bahkan ini mungkin akan sering kita jumpai. Disaat gerhana baik matahari maupun bulan, warga semua ribut. Mulai dari yang ribut pakai mulut teriak gerhana kesana kemari, ada yang pukul-pukul kentongan dan apapun yang bisa menghasilkan suara yang keras.
Menyaksikan fenomena ini seperti sedang menyaksikan orang yang kebingungan.
Wahai saudaraku, siapalah aku, tanpa bermaksud menggurui. Bukankah dalam Islam telah nyata dan sangat jelas bahwa gerhana itu adalah bukti kekuasaan Allah SWT, lalu kenapa kita masih saja menyebarkan cerita-cerita yang tak bertuan itu pada anak cucu kita, kenapa kita masih saja memberi mereka dongeng yang tak berguna. Lalu kenapa pula kita harus pontang panting kesana kemari mencari orang pintar untuk minta keberkahan, dan kenapa pula kita teriak-teriak tidak jelas, ribut-ribut dengan adanya gerhana ini.
Dan yang paling saya sedihkan adalah kenapa kita harus takut sehingga mengurung diri didalam rumah. Hanya berani mengintip dari bilik-bilik cahaya kecil rumah yang sederhana.
Sekali lagi telah jelas bagi kita didalam Islam bahwa apabila terjadi gerhana perbanyaklah istigfar, dzikir, perbanyak doa dan sedekah. Keluarlah dari rumah-rumah kita, melangkahlah ke masjid dan mengerjakan shalat gerhana. Dengarkan khutbah khatib. Demekianlah cara kita menikmati gerhana, mengakui kekuasaan dan keagungan Allah SWT.
Lalu masihkah kita harus takut dan berdiam dibalik dinding.
Share:

0 komentar:

Post a Comment