Salah satu
kesalahan dalam asuhan adalah para orang tua yang masih saja menceritakan dongeng-dongeng
tak bertuan pada anak-anak atau cucu mereka. Secara tidak sadar mereka telah
menceritakan dongeng-dongeng yang telah membodohkan anak cucu mereka sendiri.
Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah cerita-cerita ini masih lestari dan
dipelihara karena mereka sendiri tidak menyadari bahwa ini adalah cerita dongeng
tak bertuan yang membodohkan.
Kalau ditanya
tentang hal ini ada banyak alasan kenapa mereka melestarikan dongeng yang tak
bertuan tersebut. Mulai dari agar anak mudah memahaminya, agar anak senang
mendengar cerita, sebagai petuah atau pembelajaran dan lain sebagainya. Tapi
apapun itu, sejatinya cerita tersebut berasal dari ketidak tahuan dari para
tetua.
Dijaman sekarang
ini, di era modern dan jaman digital yang serba canggih ini, banyak sekali dongeng-dongeng
tak bertuan yang telah diungkapkan kebenarannya. Sebagian besar dari dongeng-dongeng
tersebut juga telah banyak kita pelajari didalam kehidupan sehari-hari. Selain
dari pada itu, sebenarnya para orang tua juga sudah menyadari kebenaran akan dongeng-dongeng
tersebut, tapi dengan segala alasan baiknya dia masih melestarikan budaya
menceritakan dongeng tak bertuan yang membodohkan.
Beberapa cerita
yang para orang tua umum ceritakan adalah tentang pelangi, dimana menurut
cerita mereka pelangi itu terjadi karena ada bidadari yang turun dari langit
dan selendangnya itulah yang menjadi pelangi. Dijaman saat ini orang tua mana
yang tidak tahu bahwa pelangi itu sebenarnya terjadi karena pembiasan cahaya
matahari yang terhalang oleh uap air di udara sehingga terciptalah warna
pelangi tersebut. Lalu kenapa kita masih menceritakan cerita yang membodohkan
ini.
Kemudian cerita
lain adalah jangan makan sambil berdiri, nanti ada ekornya yang tumbuh.
Sebenarnya tujuannya baik yaitu mengajarkan kepada sianak agar makan dengan
sopan dan baik. Lalu apa alasannya kita masih menceritakan cerita yang tidak
ada kebenarannya sama sekali ini, apa salahnya kalau kita terus terang saja
mengatakan kepada si anak agar jangan makan berdiri, itu tidak baik, yang benar
itu duduk.
Cerita lain yang
pernah saya dengar adalah jangan dudukin bantal, nanti pantatnya benjol. Memang
ada pelajaran disana, maksudnya agar si anak tidak kurang ajar karena bantal
itu digunakan untuk tidur, bukan untuk diduduki. Memang ada orang yang benjol,
tapi jelas saja itu bukan karena ia sering menduduki bantal. Bukankah lebih
baik kita mengatakan kebenarnnya bahwa tidak baik menduduki bantal karena itu
digunakan untuk tidur.
Tanggal 9 Maret
kemarin terjadi gerhana matahari. Ada berbagai dongeng yang amat sedih saya
dengar, dan cerita ini juga sama dengan gerhana bulan. Ceritanya adalah jangan
keluar saat gerhana matahari karena nanti bisa buta kalau melihatnya. Kemudian
cerita gerhana bulan itu terjadi karena bulannya sedang dimakan oleh raksasa/
naga sehingga orang-orang ribut dengan memukul bambu atau apapun yang bisa
meributkan agar raksasa/ naganya takut dan melepas bulan tersebut. Bukankah
sudah nyata gerhana itu terjadi karena matahari, bumi dan bulan berada dalam
satu garis lurus.
Mungkin orang tua
jaman dulu memiliki asalan untuk menceritakan dongeng tak bertuan ini karena
mereka tidak tahu, belum ada penelitian yang membuktikan kebenarannya. Tapi
dijaman yang canggih ini, masih perlukah kita menceritakan dongeng aneh yang
membodohkan ini.
Masalahnya adalah
bayangkan kalau seorang anak kita ceritakan dengan segala macam cerita keanehan
ini kemudian dia ditanya oleh orang lain atau saat mereka menghadapi soal dalam
ujiannya. Misalkan pertanyaanya adalah kenapa pelangi bisa terjadi atau kenapa
gerhana bisa terjadi atau kenapa tidak boleh makan sambil berdiri, bayangkan
jika mereka sangat mempercayai dan meyakini cerita anda sebagai orang tua apa
yang akan terjadi.
Ini masih kurang,
biasanya si anak adalah sangat penasaran. Misalkan ketiak kita cerita tentang
pelangi mereka pasti akan bertanya seperti apa bidadarinya, dimana dia turun,
dimana rumahnya dan sebagainya. Atau saat bercerita gerhana mereka pasti akan
bertanya kenapa raksasa/ naga memakan bulannya, seperti apa raksasa itu.
Kemudian si orang tua akan melanjutkan cerita indahnya yang dia sendiri tidak
sadar bahwa dia telah membodohi anak-anaknya.
Ingat, anak-anak
itu sangat penasaran terhadap cerita baru yang mereka dengar, rasa ingin
tahunya sangat tinggi, dunia imajinasinya sangat luas. Bayangkan, ilmu apa
sebenarnya yang telah kita ajarakan dan kita sampaikan kepada mereka.
Bukankah sangat
jauh lebih baik apabila kita menceritakan kebenaran yang sesungguhnya apalagi
kebenaranya itu telah terbukti dan kita juga mengetahuinya. Misalkan saat kita
menceritakan tentang pelangi bahwa pelangi itu terjadi karena pembiasan cahaya.
Tentu mereka akan bertanya apa itu pembiasan cahaya, apa itu uap air atau yang
lainnya. Bukankah dengan begini kita telah meceritakan sebuah ilmu yang sangat
bermanfaat.
Dan masih banyak
sekali dongeng-dongeng tak bertuan yang membodohkan yang masih abadai hingga
saat ini. Itulah kenapa anak-anak kita menjadi lamban didalam menjawab soal,
sulit didalam menerima logika dan ilmu pengetahuan, karena selama ini yang kita
ajarkan, yang kita sampaikan adalah dongeng-dongeng tak bertuan yang telah
membodohkan mereka, membuat mereka terbuai dan sangat percaya dengan dongeng-dongeng
para orang tua.
Sekali lagi,
masihkah kita harus mengabadikan dongeng-dongeng itu. Sedang kebenarannya telah
nyata.
0 komentar:
Post a Comment