Tuesday, 15 March 2016

Berhentilah Menceritakan Dongeng Tak Bertuan Yang Membodohkan



Salah satu kesalahan dalam asuhan adalah para orang tua yang masih saja menceritakan dongeng-dongeng tak bertuan pada anak-anak atau cucu mereka. Secara tidak sadar mereka telah menceritakan dongeng-dongeng yang telah membodohkan anak cucu mereka sendiri. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah cerita-cerita ini masih lestari dan dipelihara karena mereka sendiri tidak menyadari bahwa ini adalah cerita dongeng tak bertuan yang membodohkan.

Kalau ditanya tentang hal ini ada banyak alasan kenapa mereka melestarikan dongeng yang tak bertuan tersebut. Mulai dari agar anak mudah memahaminya, agar anak senang mendengar cerita, sebagai petuah atau pembelajaran dan lain sebagainya. Tapi apapun itu, sejatinya cerita tersebut berasal dari ketidak tahuan dari para tetua.
Dijaman sekarang ini, di era modern dan jaman digital yang serba canggih ini, banyak sekali dongeng-dongeng tak bertuan yang telah diungkapkan kebenarannya. Sebagian besar dari dongeng-dongeng tersebut juga telah banyak kita pelajari didalam kehidupan sehari-hari. Selain dari pada itu, sebenarnya para orang tua juga sudah menyadari kebenaran akan dongeng-dongeng tersebut, tapi dengan segala alasan baiknya dia masih melestarikan budaya menceritakan dongeng tak bertuan yang membodohkan.
Beberapa cerita yang para orang tua umum ceritakan adalah tentang pelangi, dimana menurut cerita mereka pelangi itu terjadi karena ada bidadari yang turun dari langit dan selendangnya itulah yang menjadi pelangi. Dijaman saat ini orang tua mana yang tidak tahu bahwa pelangi itu sebenarnya terjadi karena pembiasan cahaya matahari yang terhalang oleh uap air di udara sehingga terciptalah warna pelangi tersebut. Lalu kenapa kita masih menceritakan cerita yang membodohkan ini.
Kemudian cerita lain adalah jangan makan sambil berdiri, nanti ada ekornya yang tumbuh. Sebenarnya tujuannya baik yaitu mengajarkan kepada sianak agar makan dengan sopan dan baik. Lalu apa alasannya kita masih menceritakan cerita yang tidak ada kebenarannya sama sekali ini, apa salahnya kalau kita terus terang saja mengatakan kepada si anak agar jangan makan berdiri, itu tidak baik, yang benar itu duduk.
Cerita lain yang pernah saya dengar adalah jangan dudukin bantal, nanti pantatnya benjol. Memang ada pelajaran disana, maksudnya agar si anak tidak kurang ajar karena bantal itu digunakan untuk tidur, bukan untuk diduduki. Memang ada orang yang benjol, tapi jelas saja itu bukan karena ia sering menduduki bantal. Bukankah lebih baik kita mengatakan kebenarnnya bahwa tidak baik menduduki bantal karena itu digunakan untuk tidur.
Tanggal 9 Maret kemarin terjadi gerhana matahari. Ada berbagai dongeng yang amat sedih saya dengar, dan cerita ini juga sama dengan gerhana bulan. Ceritanya adalah jangan keluar saat gerhana matahari karena nanti bisa buta kalau melihatnya. Kemudian cerita gerhana bulan itu terjadi karena bulannya sedang dimakan oleh raksasa/ naga sehingga orang-orang ribut dengan memukul bambu atau apapun yang bisa meributkan agar raksasa/ naganya takut dan melepas bulan tersebut. Bukankah sudah nyata gerhana itu terjadi karena matahari, bumi dan bulan berada dalam satu garis lurus.
Mungkin orang tua jaman dulu memiliki asalan untuk menceritakan dongeng tak bertuan ini karena mereka tidak tahu, belum ada penelitian yang membuktikan kebenarannya. Tapi dijaman yang canggih ini, masih perlukah kita menceritakan dongeng aneh yang membodohkan ini.
Masalahnya adalah bayangkan kalau seorang anak kita ceritakan dengan segala macam cerita keanehan ini kemudian dia ditanya oleh orang lain atau saat mereka menghadapi soal dalam ujiannya. Misalkan pertanyaanya adalah kenapa pelangi bisa terjadi atau kenapa gerhana bisa terjadi atau kenapa tidak boleh makan sambil berdiri, bayangkan jika mereka sangat mempercayai dan meyakini cerita anda sebagai orang tua apa yang akan terjadi.
Ini masih kurang, biasanya si anak adalah sangat penasaran. Misalkan ketiak kita cerita tentang pelangi mereka pasti akan bertanya seperti apa bidadarinya, dimana dia turun, dimana rumahnya dan sebagainya. Atau saat bercerita gerhana mereka pasti akan bertanya kenapa raksasa/ naga memakan bulannya, seperti apa raksasa itu. Kemudian si orang tua akan melanjutkan cerita indahnya yang dia sendiri tidak sadar bahwa dia telah membodohi anak-anaknya.
Ingat, anak-anak itu sangat penasaran terhadap cerita baru yang mereka dengar, rasa ingin tahunya sangat tinggi, dunia imajinasinya sangat luas. Bayangkan, ilmu apa sebenarnya yang telah kita ajarakan dan kita sampaikan kepada mereka.
Bukankah sangat jauh lebih baik apabila kita menceritakan kebenaran yang sesungguhnya apalagi kebenaranya itu telah terbukti dan kita juga mengetahuinya. Misalkan saat kita menceritakan tentang pelangi bahwa pelangi itu terjadi karena pembiasan cahaya. Tentu mereka akan bertanya apa itu pembiasan cahaya, apa itu uap air atau yang lainnya. Bukankah dengan begini kita telah meceritakan sebuah ilmu yang sangat bermanfaat.
Dan masih banyak sekali dongeng-dongeng tak bertuan yang membodohkan yang masih abadai hingga saat ini. Itulah kenapa anak-anak kita menjadi lamban didalam menjawab soal, sulit didalam menerima logika dan ilmu pengetahuan, karena selama ini yang kita ajarkan, yang kita sampaikan adalah dongeng-dongeng tak bertuan yang telah membodohkan mereka, membuat mereka terbuai dan sangat percaya dengan dongeng-dongeng para orang tua.
Sekali lagi, masihkah kita harus mengabadikan dongeng-dongeng itu. Sedang kebenarannya telah nyata.
Share:

0 komentar:

Post a Comment