Thursday, 7 January 2016

Upah Dibungkus Gaji



Jangan salah paham dulu, sebenarnya uang bulanan yang anda terima itu gaji atau upah, atau gaji yang anda terima layak disebut gaji, jangan-jangan itu upah yang dibungkus amplop. Hahaaa #SalamDamai
Terkadang, kita suka ditipu oleh kenikmatan yang terlihat, artinya kelihatannya saja nikmat padahal rasanya asin, asem, pahit pula, manisnya cuma dikit, bahkan sudah kalah sama pahitnya. Diluar sana bercerita gaji sekian, tapi kenyataanya masih menyedihkan. Setiap hari nampang pake baju kantoran, padahal akhir bulan sama dengan parkir pinggir jalan. Apa ini, apa maksudnya.
Mari kita perjelas apa itu gaji dan apa itu upah. Biar kita tau selama ini apa yang kita dapatkan.


  •  Gaji umumnya didapat secara berkala dengan berseragam, setiap hari masuk dengan pekerjaan pasti, walaupun ada beberapa oknum yang hanya tumpang kostum, akhir bulan tetap terima amplop seperti yang lain.
    Upah umumnya didapat secara tidak menentu, tidak terjadwal, tidak pakai seragam, bahkan ada hitungan harian. Jadi tidak ada tuh istilahnya upah buta, macam gaji buta. 
  •  Gaji itu memakai seragam.Upah, yang penting tidak telanjang. Lihat aja mereka yang buka baju karena kepanasan, keringetan, badan jadi hitam dan mengkilap.
  • Gaji besarnya tetap, terkadang juga naik sesuai masa kerja atau jabatan. Itu baru gaji aja, belum lagi tunjangan ini tunjangan itu, pokoknya kesannya gede dah.
    Upah tidak ada tunjangannya, besarnyapun tergantung jenis kerjaan. Makin keras kerjaan umumnya makin tinggi upanya, tapi tidak ada jaminan. Bahkan banyak upah yang diterima tidak sebanding dengan lelah yang didapat.
  • Gaji bekerja pasti, sudah ada semacam list pekerjaan.
    Upah apapun harus dikerjakan.
Yang harus dipertanyakan adalah apakah gaji yang selama ini anda atau kita terima itu adalah gaji, jangan-jangan upah yang dibungkus amplop. Kenapa demikian.
  • Memang upah yang diterima secara berkala, tiap akhir bulan atau awal bulan berikutnya, dibungkus amplop pula, bahkan rinciannya juga ada. Sayangnya, bersarnya bahkan lebih besar dari upah. 
  •  Katanya gaji, tapi kok sudah hampir seumur hidup bekerja disana, sejak baru lulus kuliah sampai hampir masuk usia kakek nenek, kok angka akhir bulan tetap saja, tidak ada peningkatan. Bahkan sempat menurun.
    Mungkin karena bukan pegawai, tetapi setidaknya perusahaan harus memberi upah yang layak lah. Setidaknya begitu cara menghargai pekerjanya. 
  •  Masih menganggap ini gaji, walaupun setiap hari ke kantor, tapi pekerjaannya semerawut, tidak menentu. Seperti manusia multi fungsi, diharuskan bisa bekerja disemua bagian, bisa mengerti semua system, siap menghadapi setiap rintangan. Akhirnya, apapun itu anda harus siap mengerjakan.
Masih bilang ini gaji?
Coba sekali lagi evaluasi, jangan-jangan ini upah yang dibungkus amplop kemudian disebut gaji.
Lalu bagaimana seharusnya.
Seharunya, anda jangan menghabiskan masa hidup anda disana. Orang bilang keluar dari zona nyaman. Sudah berapa lama anda bekerja, apa pangkat anda sekarang, setiap prestasi kerja ada bentuk apresiasi nayata tidak, jangan-jangan cuma sanjungan semata. Sekali lagi jangan habiskan masa-masa indah hidup anda disana.
Percayalah, anda itu orang hebat, orang pintar, orang cerdas. Buktinya anda bisa masuk diperusahaan itu mengalahkan puluhan bahkan ratus orang saat seleksi dulu. Tapi sayang, kepintaran dan kecerdasan anda tidak anda pergunakan dengan maksimal.
Berhentilah mengeluh, berhentilah menjadi karyawan atau pekerja. Berhentilah menerima upah yang dibungkus gaji. Saatnya anda menggaji diri sendiri, saatnya anda menentukan karir anda sendiri. Berusaha berusaha berusaha, berdoa dan bertawakkal. Jadilah pengusaha, sebab anda akan merintis karir anda sendiri, diperusahaan anda sendiri.

Tulisan ini untuk rakyat OS yang masih mengelukan gaji dan kapan diangkat penjadi pegawai / pegawai negeri.
Share:

0 komentar:

Post a Comment