Sejatinya tidak ada alasan untuk seorang pria muslim tidak solat di masjid, akan tetapi teori bagikan angin yang berlalu, dan prakteknya adalah bagai menggali berlian didasar bumi. Meski bahkan tak berjarak halaman, akan tetapi itulah salah satu sifat fana seorang manusia durja.
Dalam kesendirian menelusuri perjalanan, aku kemudian berfikir. Bagaimana aku mencoba memulai ini sendiri, dari diriku sendiri dan sebagian besarnya adalah untuk diriku jua.
Perjalanan ke masjid tidak hanya tentang berjalan dan menunaikan kewajiban saja, akan tetapi memiliki filosofi makna yang lebih dalam dari itu. Mulai dari bagaimana mempelajari dan menerapkan sikap sabar. Disini kesabaran benar-benar akan diuji, mulai dari subuh di antara beratnya kantuk dan dinginya embun, siang yang begitu panas bak memecah batu, sore yang terlalu sibuk dan moment tanggung, bahkan magrib yang hanya sesaat kemudian kemalasan muncul dikala isa. Maka disaat itu rasa sabar itu benar-benar akan di uji, mampukah kita untuk bersabar seperti apa yang dikatakan.
Perjalanan ini juga tentang ego, dimana disana aku duduk nyaman dan rindang dengan segala kenikmatannya, bahkan terkadang muncul rasa pertempuran didalam batinku yang mengatakan seribu satu alasan untuk tidak beranjak dari tempat fana ini. Kadang, alasan aku buat sendiri agar bisa berdalih kepada Tuhan, akan tetapi semua itu hanya percuma. Kadang aku menang melawan ego ku, tapi jua tidak jarang aku dikalahkan rasa pecundang dan pengecut dalam diri ini.
Lalu saat aku tiba di tujuan, aku kemudian berfikir, betapa beruntungnya aku yang telah tiba ditempat ini. Begitu besar pertarungan yang aku lakukan untuk bisa sampai disini, dan aku tahu mungkin mereka memiliki pertempuran yang lebih besar dan lebih berat di sana. Hanya saja kini kita tahu siapa pemenangnya. Lalu apa alasan aku untuk mengeluh dan kurang besyukur atas segala nikmat yang telah dicukupkan atasku ini.
Sungguh, ada banyak pelajaran yang bisa aku pejarai dari perjalanan sesaat ini.
0 komentar:
Post a Comment