Dan kali ini Oget akan bercerita
tentang rumah. Rumah adalah sebuah tempat dimana seseorang bisa merasa nyaman,
aman dan tentang. Ya setidaknya itu menurut pepatah. Dan setiap orang tentu
ingin memiliki rumah yang indah, mewah dan megah. Seakan rumah bisa menjadi
salah satu ukuran kejayaan, kesuksesan, kehebatan, kekuasanaan dan apalah
namanya.
Kenapa tidak, coba lihat, rumah
seorang pejabat dengan seorang biasa tentu berbeda, rumah pak petani dan bapak
anggota dewan juga jauh berbeda. Umumnya, para pejabat yang hebat, bapak
anggota dewan yang terhormat dan kalangan elit lainnya, dilihat dari luarnya
saja orang tidak akan heran. Rumah yang besar, megah, dengan warna yang cerah,
mengkilap, memiliki taman yang indah, garasi yang besar, mobil berbaris, rumah
menjulang tinggi, tanah dimana-mana. Rasanya tidak belebihan untuk
menggambarkan hal ini.
Tapi, dibalik kemegahan rumah itu,
jarang, sangat jarang aku melihat rumah seperti itu menjadi tempat para
tetangga untuk berkumpul dan bercengkrama, duduk bersama, membahas ini dan itu.
Jarang juga aku melihat juragan rumah ikut bergabung bersama para warga biasa,
bercerita dengan mereka atau sekedar melepas kelakar ketawa. Mungkin karena
juragan sedang sibuk, atau ada rapat mendadak diluar gubuk, yang pasti semoga
mereka tidak suntuk bersama kami walau hanya satu cerita.
Kenyataanya, memang juragan jarang
bersama kami, rumah megahnya juga jarang ramai, hanya kadang kala kami dipanggi
nyai, mungkin sekedar untuk menemani atau memeriahkan acara saat mereka mengundang
pak kiyai.
Disaat warga dibutuhkan, gerbang
terbuka lebar, beraneka ragam buah dan minuman disuguhkan, makanan datang
bergiliran. Para tamu merasa sangat senang, walau hanya untuk sekarang.
Kemudian pembicaraan dimulai, untuk meminta dukungan semua pihak, dalam pemilu
nanti, katanya sih hanya untuk negeri ini.
Dan keramaian setelah itu berlalu,
keadaan kembali seperti dulu, sepi sunyi dan membisu. Gerbang kembali tertutup
rapat, pintu juga terkunci erat, tidak ada lagi pesta rakyat, sang juragan
kembali duduk dikursi terhormat.
Satu hal yang aku sesali dari
rumah megah itu, entah kenapa setiap orang menjadi sungkan, jangankan untuk
duduk bersama juragan, seorang pengemis pun enggan meminta belas kasihan.
Kalaupun orang ingin bertamu, ia tidak bisa masuk semau-mau, apalagi jiga ingin
bertemu.
Cobalah tengok rumah warga biasa,
disana penuh dengan canda tawa, menjadi tempat para warga, berbagi cerita dan makanan
biasa. Meski rumah kami sederhana, tetapi mereka selalu bersama.
Ya, memang warga tidak sepintar
juragan, tidak sehebat nyai, meski warga tau sedang dibodoh-bodohi, tapi apa
mau dikata, suaranya hanya seperti angin yang berlalu, sepi dan sunyi. Juragan
memang hebat, pintar dan berkuasa, dan warga seakan menjadi boneka, yang bisa
dipermainkan tak lebih seperti badut saja. Setidaknya warga biasa bodoh dalam
kebenaran meski juragan hebat dalam ketidak adalian.
Kau tau, pemenangnya adalah
kebenaran.
Jadi, tengoklah rumah indah
juragan, sepi, sunyi dan kelam.
0 komentar:
Post a Comment