Tuesday, 27 October 2015

Rumah Mewah Sungkan Singgah


Dan kali ini Oget akan bercerita tentang rumah. Rumah adalah sebuah tempat dimana seseorang bisa merasa nyaman, aman dan tentang. Ya setidaknya itu menurut pepatah. Dan setiap orang tentu ingin memiliki rumah yang indah, mewah dan megah. Seakan rumah bisa menjadi salah satu ukuran kejayaan, kesuksesan, kehebatan, kekuasanaan dan apalah namanya.
Kenapa tidak, coba lihat, rumah seorang pejabat dengan seorang biasa tentu berbeda, rumah pak petani dan bapak anggota dewan juga jauh berbeda. Umumnya, para pejabat yang hebat, bapak anggota dewan yang terhormat dan kalangan elit lainnya, dilihat dari luarnya saja orang tidak akan heran. Rumah yang besar, megah, dengan warna yang cerah, mengkilap, memiliki taman yang indah, garasi yang besar, mobil berbaris, rumah menjulang tinggi, tanah dimana-mana. Rasanya tidak belebihan untuk menggambarkan hal ini.
Tapi, dibalik kemegahan rumah itu, jarang, sangat jarang aku melihat rumah seperti itu menjadi tempat para tetangga untuk berkumpul dan bercengkrama, duduk bersama, membahas ini dan itu. Jarang juga aku melihat juragan rumah ikut bergabung bersama para warga biasa, bercerita dengan mereka atau sekedar melepas kelakar ketawa. Mungkin karena juragan sedang sibuk, atau ada rapat mendadak diluar gubuk, yang pasti semoga mereka tidak suntuk bersama kami walau hanya satu cerita.
Kenyataanya, memang juragan jarang bersama kami, rumah megahnya juga jarang ramai, hanya kadang kala kami dipanggi nyai, mungkin sekedar untuk menemani atau memeriahkan acara saat mereka mengundang pak kiyai.
Disaat warga dibutuhkan, gerbang terbuka lebar, beraneka ragam buah dan minuman disuguhkan, makanan datang bergiliran. Para tamu merasa sangat senang, walau hanya untuk sekarang. Kemudian pembicaraan dimulai, untuk meminta dukungan semua pihak, dalam pemilu nanti, katanya sih hanya untuk negeri ini.
Dan keramaian setelah itu berlalu, keadaan kembali seperti dulu, sepi sunyi dan membisu. Gerbang kembali tertutup rapat, pintu juga terkunci erat, tidak ada lagi pesta rakyat, sang juragan kembali duduk dikursi terhormat.
Satu hal yang aku sesali dari rumah megah itu, entah kenapa setiap orang menjadi sungkan, jangankan untuk duduk bersama juragan, seorang pengemis pun enggan meminta belas kasihan. Kalaupun orang ingin bertamu, ia tidak bisa masuk semau-mau, apalagi jiga ingin bertemu.
Cobalah tengok rumah warga biasa, disana penuh dengan canda tawa, menjadi tempat para warga, berbagi cerita dan makanan biasa. Meski rumah kami sederhana, tetapi mereka selalu bersama.
Ya, memang warga tidak sepintar juragan, tidak sehebat nyai, meski warga tau sedang dibodoh-bodohi, tapi apa mau dikata, suaranya hanya seperti angin yang berlalu, sepi dan sunyi. Juragan memang hebat, pintar dan berkuasa, dan warga seakan menjadi boneka, yang bisa dipermainkan tak lebih seperti badut saja. Setidaknya warga biasa bodoh dalam kebenaran meski juragan hebat dalam ketidak adalian.
Kau tau, pemenangnya adalah kebenaran.
Jadi, tengoklah rumah indah juragan, sepi, sunyi dan kelam.
Share:

0 komentar:

Post a Comment