Lantas saja semua ini seperti disebapkan oleh corona, dari mulai yang paling sederhana sampai yang besar skala global sekalipun. Manusia memang lebih condong tidak mau mengakui kesalahannya, kegagalannya apalagi kebodohannya, sekalipun terbukti tetap saja mahluk yang bernama manusia ini akan berusaha mencari pelampiasan lain yang dapat disalahkan atau menutupi kesalahnnya.
Katanya, yang pertama terkena dampaknya adalah mereka yang bergerak di sektor jasa, sebut saja penerbangan, pariwisata, perhotelan dan lainnya. Lalu karena alasan tidak ada pemasukan atau berkurangnya keuntungan, maka dilakukan pengurangan tenaga kerja dengan cara dirumahkan, cuti diluar tanggungan perusahaan dan penyebutan lainnya yang pada intinya adalah mereka memecat karyawannya tanpa memberi jaminan atau haknya.
Iya, aku memang tidak menyebutkan pemecatan karena keinginan perusahaan, tetapi karena kondisi pandemic yang mengharuskan, sebut saja ini seperti awal pembicaraan tadi. Masih bisa dikatakan, ini tidak seperti yang diharapkan, kalau pandemic berlalu mereka bisa kembali bekerja. Seolah ingin menyembunyikan niat awal yang ingin memecat beberapa karyawan, corona ini menjadi kesempatan untuk melakukan pengurangan pekerja karena selama ini perusahaan sudah tak pandai mencari keuntungan, lebih tepatnya keuntungan pribadi sih.
Lalu banyak dari kita yang berkata prosedur berbagai hal menjadi berubah, lebih sulit dan tak semudah dulu, semua karena corona. Kita juga berkata, dapur tak sengebul dulu lagi sebab corona mempersulit segalanya. Dan berbagai kesalahan dan kebodohan yang kita lampiaskan kepada corona tanpa kita mau mengakui kebodohan dan kefasikan kita.
Corona hanya sebagian kecil cara untuk kita menyadari dan mengakui kebodohan kita, bukan menjadikan corona sebagai pelampiasan dan alasan atas kegagalan yang selam ini kita lakukan.
Lebih parahnya lagi, diluar sana banyak sekali oknum yang memanfaat kan corona sebagai kesempatan mendapatkan keuntungan. Mulai dari pemerintah yang membuat berbagai macam program dengan tujuan memberikan masyarakat bantuan sekaligus jawaban atas janji kampanye. Tak peduli hal tersebut lebih bermanfaat atau tidak. Masyarakat kalangan bawah yang menyadari program ini hanya program "yang penting" pun melakukan segala persyaratan dengan landasan "yang penting", yang penting cair, yang dapat, yang penting ada, yang penting ikut dan yang penting lainnya yang sebenarnya tidak penting, ini juga kata mereka diatas sana, yang penting diberikan, yang penting janji ditunaikan, dan yang penting dapat bagian yang sebenarnya tidak penting tapi dipetingkan.
Semua ini bukan cuma hanya karena corona, tetapi kebodohan dan kenaifan kita.
0 komentar:
Post a Comment