Friday, 6 September 2019

Anak Kampung Milik Kampung


Aku lahir dan besar di desa, tempat tinggalku di kampung. Bagiku kota itu jauh dan mungkin indah. Banyak bangunan mewah, gedung bertingkat, jalanan aspal mulus dan segala macam label milenial.

Hidup di kampung itu, jalinan kekeluargaan adalah nomor satu, saling hormat menghormati, adat dan tata krama, itu sudah makanan kami sehari-hari. Kerja keras dan keringat, muka masam dan kulit gelap, mungkin sebagian dari identitas kami. Bahkan penampilan pun tak dapat di elakkan.

Lalu satu persatu orang kota datang ke kampung kami, melihat dan mempelajari kearifan dan cara hidup kami. Mereka mungkin terkagum-kagum dengan kesederhanaan hidup kami, tapi belakangan menggumam "kampungan".

Harus diakui bahwa karena kebodohan kami dan sedikit kelihaian kalian maka kami jual sedikit wilayah kami. Bahkan kalian akan melakukan segala cara agar kami mau menjual wilayah kami.

Lantas, karena kalian dapat memiliki sedikit dari tanah kami, bukan berarti kalian dapat membeli budaya kami, mengatur apa lagi menjual kami semau kalian.

Kali ini bukan karena kebodohan kami, melainkan karena egoisme kalian, berharap keuntungan dan terus berfikir untuk untung, maka kalian berkata kami menghalangi. Menghalangi jalan kalian, menghambat waktu kalian, mempersempit ruang gerak kalian dan kami cap sebagai parasit.

Kukatakan ini bukan karena kebodohan kami melainkan karena ego kalian, bahwa kalian lupa siapa tuan dan tamu, kalian lupa lahat dirimu, semua itu terhalang label untung dan rasa. Begitukah cara kalian selama ini membangun kota.

Ingatlah, jika suatu hari nanti ada yang berani merebut wilayah kami, maka kami ada di barisan terdepan mempertanyakannya.

Share:

0 komentar:

Post a Comment