Aku lahir dan besar di desa, tempat tinggalku di kampung.
Bagiku kota itu jauh dan mungkin indah. Banyak bangunan mewah, gedung
bertingkat, jalanan aspal mulus dan segala macam label milenial.
Hidup di kampung itu, jalinan kekeluargaan adalah nomor
satu, saling hormat menghormati, adat dan tata krama, itu sudah makanan kami
sehari-hari. Kerja keras dan keringat, muka masam dan kulit gelap, mungkin
sebagian dari identitas kami. Bahkan penampilan pun tak dapat di elakkan.
Lalu satu persatu orang kota datang ke kampung kami, melihat
dan mempelajari kearifan dan cara hidup kami. Mereka mungkin terkagum-kagum
dengan kesederhanaan hidup kami, tapi belakangan menggumam
"kampungan".
Harus diakui bahwa karena kebodohan kami dan sedikit
kelihaian kalian maka kami jual sedikit wilayah kami. Bahkan kalian akan
melakukan segala cara agar kami mau menjual wilayah kami.
Lantas, karena kalian dapat memiliki sedikit dari tanah
kami, bukan berarti kalian dapat membeli budaya kami, mengatur apa lagi menjual
kami semau kalian.
Kali ini bukan karena kebodohan kami, melainkan karena
egoisme kalian, berharap keuntungan dan terus berfikir untuk untung, maka
kalian berkata kami menghalangi. Menghalangi jalan kalian, menghambat waktu
kalian, mempersempit ruang gerak kalian dan kami cap sebagai parasit.
Kukatakan ini bukan karena kebodohan kami melainkan karena
ego kalian, bahwa kalian lupa siapa tuan dan tamu, kalian lupa lahat dirimu,
semua itu terhalang label untung dan rasa. Begitukah cara kalian selama ini
membangun kota.
Ingatlah, jika suatu hari nanti ada yang berani merebut
wilayah kami, maka kami ada di barisan terdepan mempertanyakannya.
0 komentar:
Post a Comment